Selasa, 03 Februari 2009
Fenomena JAWA
Saya geli ketika teringat di sebuah pengajian seorang ustadz sering mengatakan kata dalam bahasa Jawa Ngih nopo Mboten....? dan jamaah disebuah pengajian tersebut langsung mengatakan nggih....tanpa berpikir panjang. Dan kalimat tersebut diulang berkali-kali dan saya hitung lebih dari 50X dan di Jamaah tersebut selalu mengatakan mengatakan Nggihhh (iya). Fenomena semacam ini sering dipakai oleh para Politikus di Jaman ORBA,ketika waktu itu partai yang berkuasa Golkar....! partai Golkar sering memberikan doktrin2 pada waktu kampanye seperti ini...No1 dipilih...no 2 ditoblos...No 3 dilipet....Nggih nopo mboten !!....biasanya kadernya lgs jawab nggih.....Atau kalau kampanye yang seperti ini : anak 2 sudah cukup...maka selalu pilih no2 (iya/tidak) dan biasanya selalu dijawab dengan kata Iyaa...Dalam kultur masyarakat jawa juga sering dijumpai orang yang slalu "Manut"...Sing penting manut kyaine ...atau kata2 "ngolo berkah"(Asal bersalaman berkahnya nyampe)....atau juga kata2 mangan ora mangan ngumpul ...atau surgo nunut neroko katut...dan masih banyak lagi kata2 yang notabene tidak membuka wacane berpikir yang luas bagi orang yang bersangkutan. Kondisi masyarakat jawa yang serba manut itu tak lepas dari teropongan para politikus Indonesia untuk memunculkan Figur2 atau tokoh2 politiknya seperti Megawati, Gusdur, Sultan HB 10. Ketiga tokoh tersebut sangat kuat karakter Figurnya karena Megawati anak Sukarno, Gusdur seorang kyai. dan Sultan HB 10 seorang Keturunan Raja di Yogyakarta. Terlepas dari fenomena tersebut, dengan kondisi suasana politik yang lebih terbuka sekarang harusnya membuka ruang berpikir kita agar lebih cermat ketika menghadapi Pemilu mendatang.Jangan sampai hanya karena Figur dan manut kita menjadi tidak peka terhadap pilihan kita. Misi dan Fisi partai harus jelas...sehingga ketika kita memilih...kita bisa mengharapkan adanya perubahan2 bagi INDONESIA di masa yang akan datang....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar